PENGADILAN TINGGI AGAMA BALI PERINGATI ISRA’ MI’RAJ NABI MUHAMMAD SAW DENGAN KHIDMAT

Denpasar, 17 Januari 2025– Pengadilan Tinggi Agama (PTA) Bali menyelenggarakan peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW di aula utama kantor PTA Bali. Acara ini dihadiri oleh seluruh jajaran pimpinan, hakim, pegawai, dan karyawan PTA Bali, serta perwakilan dari pengadilan agama di bawah yurisdiksi PTA Bali.
Ketua PTA Bali, H. Kt. M. Djamal., S.H., M.M. dalam sambutannya menyampaikan bahwa peringatan Isra’ Mi’raj menjadi momentum untuk memperkuat iman dan meningkatkan semangat kerja berdasarkan nilai-nilai keislaman.
"Isra’ Mi’raj mengajarkan kita tentang pentingnya hubungan vertikal kepada Allah SWT melalui shalat, sekaligus hubungan horizontal kepada sesama manusia dengan mengedepankan keadilan, integritas, dan profesionalisme dalam menjalankan tugas sehari-hari," ujar H. Kt. M. Djamal., S.H., M.M.
Peringatan ini diisi dengan tausiyah yang disampaikan oleh Wakil Ketua PTA Bali, Dr. H, Acep Saifuddin, S.H., M.Ag,. Dalam ceramahnya, beliau menyampaikan “Bagi umat Islam, peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang berharga, karena ketika inilah salat lima waktu diwajibkan, dan tidak ada Nabi lain yang mendapat perjalanan sampai ke Sidratul Muntaha seperti ini.”.

Dalam tausiyah tersebut, penceramah menekankan pentingnya menjadikan shalat sebagai fondasi moral dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam bekerja dan melayani masyarakat pencari keadilan. Beliau juga mengingatkan agar setiap individu menjaga kejujuran, amanah, dan tanggung jawab dalam menjalankan tugas sehari-hari.
Selain itu, ada 5 hal yang menjadi nilai-nilai penting yang penceramah sampaikan kepada kita semua:
- Pertama, sebagaimana tercermin dari ayat yang mengemukakan peristiwa Isra' Mi'raj, dalam sebuah kepemimpinan, hal pertama yang harus dilakukan adalah menjaga integritas moral. Dalam konteks keindonesiaan, hal ini dapat diwujudkan dengan reformasi moral (revolusi mental) yang dimulai dari tingkat aparaturnya.
- Kedua, selain integritas moral (akhlaqul karimah), yang tidak kalah pentingnya adalah belajar kepada sejarah. Dalam ungkapan kaidah fiqh, ''Memelihara nilai lama yang baik dan mengambil nilai baru yang lebih baik'' (Al-muhafazah 'ala al-qadim al-shalih wa al-akhzu bi al-jadid al-ashlah).
- Ketiga, dengan integritas moral serta nilai-nilai kesejahteraan itu, diharapkan sebuah kepemimpinan dapat berjalan dengan benar dan tidak mudah terpincut godaan, sebagaimana teladan Nabi ketika melakukan Mi'raj-nya.
- Keempat, hendaknya kebijakan seorang pemimpin membumi kepada hati dan kebutuhan (rakyat) yang dipimpinnya. Dalam peristiwa Isra' Mi'raj, hal itu telah diteladankan Nabi saw, ketika beliau sudi kembali (turun) ke bumi setelah bertemu Allah. Padahal pertemuan dengan Allah-lah cita-cita dan tujuan umat manusia. Sebagaimana kaidah fiqh yang mengatakan, ''Kebijakan pemimpin itu akan senantiasa berlandaskan pada kemaslahatan untuk rakyat'' (Tasharrufu al-imam 'ala ar-raiyyah manutun bi al-mashlahah).
- Kelima, amanat Rasulullah saw untuk menegakkan salat, pada dasarnya merupakan suatu simbolisme yang mengajarkan prinsip kepemimpinan, yakni pola hubungan antara hamba (manusia) kepada Tuhannya dan antara manusia dengan sesamanya. Dalam ajaran salat, seseorang yang hendak melaksanakannya, diwajibkan terlebih dahulu berwudlu atau dalam keadaan suci. Pelaksanaan salat itu sendiri, dimulai dengan mengagungkan Asma Allah (takbiratul ihram) dan diakhiri dengan doa keselamatan bagi segenap umat manusia (salam).

Acara berlangsung khidmat dan diakhiri dengan doa bersama untuk keselamatan dan keberkahan, baik bagi institusi PTA Bali maupun masyarakat Indonesia secara umum.
Kegiatan ini diharapkan dapat mempererat tali silaturahmi antarpegawai, meningkatkan motivasi spiritual, dan menginspirasi seluruh keluarga besar PTA Bali untuk terus berkontribusi dalam memberikan pelayanan hukum yang berlandaskan nilai-nilai Islami.
